Langsung ke konten utama

EKSISTENSI SURAT KABAR MEDIA INDONESIA DI ERA DIGITAL


Jika dilihat dari kacamata Graham Murdock (1990), Media Group bisa disebut sebagai bisnis yang memiliki karakteristik communications conglomerate, yaitu sebuah konglomerasi bisnis yang berfokus pada industri yang bergerak dalam bidang media dan selanjutnya berekspansi vertikal maupun horizontal dalam bidang industri yang sama. Sementara, jika dilihat berdasarkan pandangan Richard Bounce (1976), Media Group masuk dalam kategori concentric conglomerates, yaitu suatu korporasi yang bisnis awalnya bergerak dalam industri media massa, kemudian melebarkan sayap ke industri media lain dengan tujuan utama penguatan bisnis industri media.

Media Group Network merupakan ekosistem industri media yang terintegrasi dalam multiplatform dengan komitmen memberikan informasi, berita dan hiburan yang memiliki dampak dan pengaruh. Media Group memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perjalanan bangsa Indonesia melalui industri media yang terintegrasi dan multiplatform seperi surat kabar Media Indonesia, televisi berita MetroTV, surat kabar Lampung Post, media online Medcom.id, mediaindonesia.com, Suma.id, Sai Radio, dan lainnya yang kemudian menjadi Media Group Network. Media Group Network dihadirkan untuk menjawab tantangan kemajuan teknologi informasi dalam industri media. Melalui beragam platform, Media Group Network berupaya menghasilkan serta menyampaikan produk jurnalistik yang terpercaya dan bisa menjadi referensi bagi khalayak. 

Teknologi digital telah menciptakan model bisnis baru bagi sebagian besar media arus utama di Indonesia. Ini juga menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk tetap bisa mempertahankan eksistensi pasar media oleh Media Group, yaitu dengan menjalankan pola konvergensi, baik konten maupun pekerja atau jurnalisnya. Konvergensi dalam tubuh Media Group dilakukan dengan pola pengintegrasian dan sinkronisasi sejumlah platform berikut sumber daya yang ada untuk bisa digunakan dan diarahkan untuk satu tujuan.

Pola konvergensi yang dijalankan di Media Group, menurut Asisten Kepala Divisi Media  Indonesia, Henri S. Siagian adalah sinkronisasi atau sinergi yang menyatukan energi yang berbeda- beda untuk satu tujuan. Hingga kini konvergensi yang dilakukan dalam induk Media Group masih terus berjalan dan dalam proses pematangan sistem. Konvergensi di Media Group menghasilkan Media Group Network.

Perkembangan teknologi informasi komunikasi memungkinkan segala bentuk penyebaran informasi menjadi cepat, mudah dan murah. Persaingan dalam industri media massa, yang ditandai dengan adanya persaingan dalam hal kecepatan menampilkan informasi aktual untuk menarik perhatian khalayak, memunculkan anggapan bahwa digitalisasi media ini akan mematikan media konvensional terutama media cetak. Situasi ini diakui oleh Asisten Kepala Divisi Media Indonesia, Henri S. Siagian, bahwa peta persaingan industri media massa saat ini kian ketat seiring kemajuan teknologi.

Menurut Henri S. Siagian, surat kabar Media Indonesia sebagai media arus utama berbasis cetak harus bertarung dengan media digital yang penyebarannya begitu cepat dan masif. Berdasarkan Digital News Report tahun 2022, konsumsi berita terbesar masyarakat Indonesia adalah melalui media online sebesar 88%, disusul media sosial 68%, televisi 57%, dan media cetak (koran, majalah, dan sejenisnya) hanya 17%.

Dalam upaya mempertahankan eksistensi dari gempuran media baru tersebut, surat kabar Media Indonesia yang terbit pertama kali pada 19 Januari 1970 ini, terus membuat beragam inovasi dan terobosan baru untuk mempertahankan eksistensi dan memperluas jaringan pasar. Ketidakpastian dalam perkembangan industri media harus dijawab dengan kreativitas. Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak mencoba yang sudah pasti gagal. Kalimat inilah yang kemudian menjadi landasan pemikiran surat kabar Media Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Asisten Kepala Divisi Media Indonesia, Henri S Siagian dalam upaya mempertahankan eksistensi surat kabar Media Indonesia di industri media massa berbasis cetak.

Efisiensi yang terjadi dan dialami industri media cetak saat ini juga dimaknai secara positif, yaitu dengan cara meningkatkan produktivitas, kreativitas serta kemampuan masing-masing individu yang ada, sehingga mampu mengikuti perkembangan kemajuan teknologi informasi komunikasi yang sesuai dengan tuntutan pasar. Ketika dihadapkan pada kendala mahalnya biaya (cost) produksi dan distribusi serta perubahan budaya masyarakat dalam mencari informasi dan berita, surat kabar Media Indonesia pun mulai melakukan pemikiran ulang dan melakukan perubahan terhadap pola bisnis serta segmentasi pasarnya.

Surat kabar Media Indonesia membuat pembenahan dengan melakukan beragam inovasi dan kerjasama dengan sejumlah pihak terkait serta berupaya mendekat dengan komunitas-komunitas literasi dan pebisnis. Surat kabar Media Indonesia juga bertransformasi ke platform digital dengan menerbitkan versi digital atau e-paper, membuat sejumlah program digital untuk menjaring kaum milenial, seperti Nunggu Sunset, The Editors, Journalist on Duty, Diksi, Indonesia Bicara, Dialektika serta program yang ditayangkan lewat media sosial lain, seperti Tik-Tok, live instagram, Youtube dll.

Perkembangan teknologi juga disikapi dengan inovasi program yang memiliki nilai edukasi dan informatif seperti rubrik Setara dan Berdaya. Meski ekonomi media memiliki peran optimasi dalam upaya mencari keuntungan untuk tetap menjaga keberlanjutan industri media massa, namun surat kabar Media Indonesia tetap menjaga ruang redaksi tetap independen. Surat kabar Media Indonesia menerapkan batasan yang tegas atau tembok pemisah antara bidang bisnis dengan redaksi. Menurut Henri S. Siagian, jurnalis di Media Indonesia bukanlah pencari iklan. Namun, ia bisa membantu melalui jaringan yang dimilikinya atau dengan istilah lain berkolaborasi. Kolaborasi antara jurnalis dan tim marketing tidak boleh memiliki pengaruh apapun di dalam ruang redaksi.

Ruang redaksi harus tetap independen. Begitu pula dengan pemilik media. Sebagaimana diketahui bersama Media Indonesia milik konglomerat media, Surya Paloh. Menurut Henri S. Siagian, sebagai pemilik Surya Paloh tidak pernah melakukan intervensi apapun terkait pemberitaan atau agenda-agenda yang ada di dalam ruang redaksi. Dalam beberapa kali rapat interen bersama, Surya Paloh hanya memberikan arahan, pemberitaan yang dihadirkan harus meneguhkan semangat kebangsaan dan memberikan inspiratif. Media Group, khususnya surat kabar Media Indonesia diharapkan tetap menjadi media yang melayani kepentingan publik dengan pola konsumen para pengambil keputusan atau kebijakan.

Sedangkan menurut Emiel Thabrani, dosen Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR Jakarta sebagai narasumber kedua, dinyatakan bahwa hal terpenting dalam mempertahankan eksistensi pasar media massa saat ini adalah dengan mempertahankan tiga C, yakni: 

1. Control, media massa harus memiliki pengawasan yang ketat terhadap setiap informasi yang masuk. Hal ini terkait dengan maraknya berita-berita bohong yang kerap beredar melalui media sosial di masyarakat.

2. Credibilty, media massa harus tetap menjaga kredibilitasnya sebagai entitas yang independen.

3. Charisma, media harus bisa menjaga reputasi dan kepercayaan publik.

Jika tiga C tersebut berjalan dengan baik, maka media massa tersebut akan mampu bertahan dalam iklim bisnis yang kian kompetitif (Competitive). Untuk meraih itu semua, media massa harus lebih tajam lagi mengelola Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Pengelolaan sumber daya manusia sangat diperlukan mengingat semakin ketatnya peta persaingan dalam industri media massa. Pengelolaan SDM juga harus diarahkan pada peningkatkan kompetensi untuk mengikuti perkembangan kemajuan teknologi informasi komunikasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deretan Teknologi Yang Diramal Sakti Dan Tren Tahun 2023, Apa Saja?

  Tren teknologi terus berganti. Memasuki 2023, empat ahli berusaha memprediksi tren teknologi nantinya. Berikut teknologi yang akan jadi tren, dirangkum dari  CNN Internasional , Kamis (1/5/2023) : Artificial Intelligence Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari e-commerce hingga algoritma media sosial. Ledakan tren ini akan sampai ke gambar dan musik pada tahun 2023, ungkap co-founder dan CEO Addo, Ayesha Khanna. Menurutnya, AI tidak akan menggantikan manusia. "AI akan menjadi anggota tim baru untuk manusia dalam banyak pekerjaan, menyumbangkan ide dan konsep". Hal yang sama juga disebutkan oleh futuris dan penulis buku, Bernard Marr. "Fokus AI akan menjadi penambah pekerja, sebab tools baru tersedia untuk memungkinkan tenaga kerja untuk sepenuhnya memanfaatkan AI". Khanna juga menambahkan lebih banyak pekerjaan diperlukan memastikan co-pilot AI generatif. Misalnya Copilot GitHub, u...

Hak dan Keterwakilan Politik Perempuan dalam Arena Politik Indonesia

Fenomena tuntutan terhadap kesetaraan gender semakin menarik ketika dikaitkan dengan politik, karena dalam sejarah perpolitikan Indonesia berbagai dinamika soal gender dalam politik sudah menjadi rahasia publik bahwa perempuan selalu didominasi oleh laki-laki. Bahkan, pernah dalam satu masa tingkat keterwakilan perempuan sangat menurun di Indonesia, meskipun itu di masa-masa berikutnya mulai meningkat meski belum maksimal, akan tetapi setidaknya ada progres ke arah yang lebih untuk menunjukkan bahwa ada pergerakan dari kaum perempuan untuk meruntuhkan budaya patriarki yang sudah mengakar di negara Indonesia.  Hak Perempuan dalam Arena Politik   Representatif kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan di area publik adalah perdebatan dari masa ke masa yang belum ada titik temu mengenai hak perempuan dalam arena politik Indonesia. Hal ini terbaca dari perilaku perempuan yang tidak terlalu ambisius dalam hal berpolitik dengan partai politik yang tidak begitu amb...