KH. Abudrrahma Wahid—yang selanjutnya sangat familiar dipanggil
Gus Dur—merupakan salah satu sosok pesantren yang religius dan sangat
getol menyuarakan keberagaman, dan bahkan menjadi tokoh pembela bagi
kaum monoritas. Keberaniannya dalam membela kaum minoritas tidak mengalahkan risiko
yang akan diterimanya dikemudian hari. Bahkan seolah-olah Gus Dur tidak
perduli dengan nasibnya sendiri, asalkan hak-hak masyarakat terpenuhi maka
Gus Dur akan sangat merasa bahagia. Menurut Sa'diyah dan Nurhayati pada
dasarnya Gus Dur sedangkan mengajarkan kita tentang pendidikan Islam dan
pendidikan perdamaian. Keberagaman humanis telah
diwariskan dan ditanamkan oleh nenek moyang bangsa dan diajarkan secara
turun temurun sehingga membentuk suatu masyarakat yang Pluralis dan
Humanis. Pada aspek lain, teknologi telah menjadikan ilmu berkembang
pesat sekaligus juga menimbulkan efek yang negatif bagi masyarakat yakni
tergerusnya nilai-nilai plural dan humanis yang ada.
Sekilas Biografi Gus Dur
Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, lahir dengan nama
lengkap Abdurrahman al-Dakhil. Beliau lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 di
Denanyar, Jombang, Jawa Timur, di rumah pesantren milik kakek dari pihak
ibunya, Kiai Bisri Syamsuri. Gus Dur merupakan putra pertama dari enam
bersaudara. Ayahnya bernama Wahid Hasyim, adalah putra KH. Hasyim
Asy’ari, pendiri pondok pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdatul Ulama
(NU), organisasi massa terbesar di Indonesia. Ibunya bernama Hj. Solichah,
juga putri tokoh besar Nahdatul Ulama (NU), KH. Bisri Syansuri, pendiri
pondok pesantren Denanyar Jombang dan Ro’is Am Syuriah Pengurus Besar
Nahdatul Ulama (PBNU) setelah KH. Abdul Wahab Chasbullah. Gus Dur
menikah dengan Nuriyah, putri H. Abdullah Syukur, pedagang terkenal dari
Jombang, pada tanggal 11 September 1971, dan dikaruniai empat orang
putri. Jika dilihat dari latar belakang keluarganya dapat dikatakan ia
dibesarkan di lingkungan keluarga berpendidikan dan religius. Konon
semenjak usia 5 tahun Gus Dur telah lancar membaca, masa kecil dan remaja
beliau di lingkungan pesantren banyak dihabiskan dengan membaca buku.
a. Riwayat Pendidikan
- SD KRIS Jakarta Pusat
- SD Matraman
Pertiwi Jakarta Pusat
- Pesantren Tegalrejo Magelang
- Pesantren Krapyak Yogyakarta
- Universitas Al Azhar Kairo Mesir
- Universitas Baghdad
b. Riwayat Karir
- Jurnalis dan aktif
di lembaga penelitian, pendidikan dan penerangan ekonomi sosial (LP3ES)
- Ketua Umum PBNU
- Presiden ke-4 Republik Indonesia
- Karya : opini, artikel, buku dan esai
Tulisan-tulisan
itu meliputi politik, HAM, keagamaan, keIslaman dan pendidikan. Misalnya
dalam buku Muslim di tengah pergumulan karya Gus Dur, buku ini telah
merambah sektor HAM, demokrasi dan reinterpretasi ajaran Islam. Sampai
saat ini pemikiran-pemikiran dan karya Gus Dur masih didiskusikan dan
dijadikan bahan penelitian baik itu dalam bentuk artikel ilmiah, tesis maupun
disertasi.
Perjalanan pendidikan beliau sangatlah beragam hingga tidak dapat
dikatakan mudah dikarenakan pemikiran beliau yang liberal dan luas dalam
memahami suatu keilmuan. Ini juga didukung dari beliau sebagai seorang
budayawan yang kaya akan filosofi hidup dan juga candaan yang segar, diikuti
berani untuk mewujudkan pemikiran dalam kehidupan nyata.
Dari perjalanan diatas menjadikan seorang yang humanis, pluralis dan
mengubah pola berfikir dalam memandang pendidikan sebagai pendidikan
Islam yang mutikultural yang berbudaya. Hal ini dapat dibuktikan dalam
berbagai macam karya beliau yang menggambarkan Pendidikan Islam yang
multikultural terdapat dalam buku Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita karya
Abdurrahman Wahid.
Pluralis-Humanis Dalam Bingkai Pendidikan Islam Perspektif Gus
Dur
Pendidikan Indonesia yang kini mulai berkembang dan menjadikan
poros dalam pembentukan karakter suatu bangsa yang majemuk. Pendidikan
menjadi factor terpenting selain dari lingkungan dan masyarakat. ini dipicu
oleh adanya pergeseran nilai yang terjadi dalam masyarakat, dengan banyak
nya kejadian kejadian yang mengatasnamakan Suku, Ras dan Agama untuk
suatu kepentingan yang berujung memecah belah bangsa. Dilihat dari
beberapa factor terjadi konflik konflik berdasar dari SARA ini, pendidikan perlu
focus dan ikut andil dalam perubahan masyarakat yang begitu drastic
ditengah berkembangnya teknologi yang tidak dapat dihindari.
Pendidikan Islam juga mengambil peran yang sangat penting dalam
penanaman pendidikan toleransi, dan humanis.
Pendidikan islam yang
berasakan pluralis dan humanis akan menjadikan bangsa Indonesia kembali
pada fitrah nya yang tertuang dalam Pancasila yang mana saling menghargai
dan saling mengasihi. Dalam konsep pendidikan islam yang digagas oleh Gus
Dur yakni konsep pendidikan islam yang konsep pendidikan pluralis dan
humanis berlandaskan pada keyakinan religius, saling mengasihi, menjadikan
peserta didik manusia seutuhnya dan bertujuan untuk membimbing,
menghantarkan dan mengarahkan.
Konsep yang ditawarkan oleh beliau berlandaskan dari lingkungan
pendidikan yang dulu ia dapatkan yang kemudian ia padupadankan dengan
budaya dan lingkungan di Indonesia. Yang mana pendidikan tidak
memandang bagaimana latar belakang peserta didik dan agama apa yang
dianutnya yang kemudian dicurahkan dalam toleransi yang memanusiakan
manusia. Kemudian beliau memperkuat dalam dialog agama yang sering ia katakan bahwa pendidikan tidak boleh memihak dalam suku, ras, etnis dan
agama.
Menurut Azyumardi Azra pendidikan merupakan pembentukan
kesadaran dan kepribadian manusia selain memberkan ilmu dan skill.
Sehingga menjadikan proses ini, bangsa dapat mewariskan nilai-nilai
keagamaan, kebudayaan, pemikiran, dan skill yang dimiliki kepada generasi
selanjutnya. Sejalan dengan itu, menurut Natsir pendidikan ialah pimpinan
jasmani dan rohani menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusian
dengan makna sesungguhnya.
Gus Dur berpendapat Islam harus maju sebagai pemersatu bangsa dan
pelindung keragaman dan dapat memnjawab tantangan midernitas sehingga
Islam lebih inklusif, toleran, egaliter dan demokratis. Nilai Islam yang universal
dan esensial lebih dicondongkan daripada legalsimbolis, Islam memberikan
corak kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa membawa bawa lebel Islam,
akan tetapi jiwa keislaman menyatu dalam bingkai nasionalisme.
Dengan begitu, akan bersikap wajar karena menyangkut penerimaan
keyakinan dan kepercayaan. Akan tetapi, itu tidak menjadi penghalang para
pemeluk agama lainnya untuk bersama-sama dan berkerjasama dalam hal
muamalat, yakni memperbaiki nasib dalam mencapai kesejahteraan dengan
menggunakan ajaran masin-masing. Sedangkan, pendidikan pluralis humanis
jika dilihat dari segi tujuan pendidikan Islam mempunyai tujuan yang sama,
yakni bertujuan menjadikan manusia bertaqwa kepada Tuhannya.
Dengan
kata lain, pendidikan pluralis humanis yakni suatu proses pembelajaran atau
transfer ilmu dan keahlian dengan memandang sama antara keberagaman
dan kemanusiaan. Sehingga tujuan pendidikan akan terwujud dan sesuai
dengan apa yang diingkan oleh bangsa serta tidak menggeser nilai-nilai
keagamaan, kebudayaan dan pemikiran.
DAFTAR PUSTAKA
Afiana Sari, Arina, “Pluralisme dalam nilai-nilai pendidikan Agama Islam studi pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid dalam buku Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita” (undergraduate, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2017).
Aqil, Muhammad, “Nilai-Nilai Humanisme Dalam Dialog Antar Agama Perspektif Gus
Dur,” al-adyan: journal of religious studies 1, no. 1 (6 agustus 2020).
Barton, Greg, "Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, 17 ed". (Jakarta:
Equinox Publishing, 2002).
Faisol, "Gusdur dan Pendidikan Islam : Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era
Global", Cet. ke 1 (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011),
Muzakki, Ahmad, "Gus Dur: Pembaharu Pendidikan Humanis Islam Indonesia Abad 21" (Yogyakarta: Idea Press, 2013).
Sa’diyah, Halimatus dan Sri Nurhayati, “Pendidikan Perdamaian Perspektif Gus Dur :
Kajian Filosofis Pemikiran Pendidikan Gus Dur,” TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 14, no. 2 (12 Desember 2019).
Muzakki, Gus Dur.
Komentar
Posting Komentar