Dikisahkan, ketika itu Fatimah yang memiliki kepandaian sebagai saudagar mulailah melakukan perdagangan barang-barang hingga sampai ke wilayah pusat kerajaan Majapahit yang waktu itu konon diperintah oleh Prabu Brawijaya. Sambil berdagang, beliau juga menyebarkan Agama Islam.Kurang lebih setahun Fatimah berdagang di pusat kerajaan Majapahit dan akhirnya kembali ke Leran.
Namun malang, sekembalinya Siti Fatimah dari berdagang tersebut berbarengan dengan musibah penyakit pagebluk di desa Leran. Banyak yang meninggal akibat pagebluk tersebut, termasuk yang akhirnya menjadi korban meninggal adalah Fatimah beserta dua belas pengikut setianya. Prabu Brawijaya yang konon mendengar berita tentang kematian saudagar wanita dan pengikutnya itu, kemudian membangunkan bangunan cungkup berbentuk candi. Meski telah mengalami perbaikan dan renovasi, situs berbentuk candi itu tetap terawat baik hingga sekarang. Dalam cungkup yang di dalamnya terdapat makam Fatimah beserta pengikutnya yang berjumlah empat orang yaitu putri Kamboja, Kuching, Keling dan Seruni. Kerabat dan pengikut lainnya yang berjumlah tujuh orang pria, makamnya terdapat di luar cungkup.
Ditemukannya nisan Fatimah di Gresik, pesisir utara tanah Jawa membuktikan bahwa adanya rute perdagangan saudagar Muslim yang melalui Selat Malaka dan Semenanjung Malaya hingga ke Tiongkok yang berdampak adanya kontak langsung dengan pantai utara Jawa. Adanya kontak dan kedatangan Islam di wilayah pantai utara Jawa dibuktikan dengan temuan batu nisan ini. Keseluruhan karakter huruf di batu nisan tersebut adalah huruf kufi dan mencantumkan nama Fatimah binti Maimun bin Abdullah yang meninggal pada 495 H (1102 M) (J. P. Moquette, 1921: 391-399). Ini merupakan sebuah bukti bahwa pada abad ke-11 M telah ada masyarakat Muslim di pantai utara Jawa.
Banyak perihal yang dapat kita teladani dari Syahidah Siti Fatimah Binti Maimun diantaranya adalah Fatimah binti Maimun merupakan salah satu tokoh kunci proses Islamisasi di tanah jawa yang hidup sebelum Walisongo yang mampu menembus dinding kebesaran kerajaan Majapahit. Beliau juga berdakwah bersama ayah dan ibunya ke tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara. Fatimah binti Maimun memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan agama Islam. Awal dimulai dakwah dengan cara berdagang. Tidak ada kesulitan bagi beliau untuk mencari barang dagangan lantaran di daerah Tandhes banyak dijumpai para pedagang muslim dari mancanegara yang siap membantu mereka. Kegiatan dakwah pun berjalan lancar, selancar usaha dagangnya. Komunitas muslim pun kian tertata meskipun jumlahnya tidak seberapa.
Penampilan yang sejuk tutur bicara yang santun ketika beliau menyampaikan dakwah hingga beliau perlahan tapi pasti, masyarakat kelas bawah mulai tertarik memeluk agama Islam, mengikuti ajaran Fatimah binti Maimun yang dengan bijak dan santun menyampaikan misi dalam dakwahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Agus Sunyoto, Jakarta: Transpustaka, 2011
Guillot, C. & Kalus, L. (2008). Inskripsi Islam tertua di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Mustopo, M.H. (2001). Kebudayaan Islam di Jawa Timur: kajian beberapa unsur budaya masa peralihan. Surabaya: Jendela.
Susanto, Ahmad. Biografi Fatimah binti Maimun.Laduni.id.Diakses pada : 30 Mei 2023.https://www.laduni.id/post/read/81006/biografi-fatimah-binti-maimun
Tjandrasasmita, U. (2010). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Yamin, M. (1962). Tatanegara Majapahit. Jakarta: Yayasan Prapanca.
Komentar
Posting Komentar