Langsung ke konten utama

Tentang Idul Adha Sebagai Hari Raya Bagi Umat IslamYang Diperingati Setiap 10 Dzulhijjah


Setiap tahunnya, umat Islam di seluruh dunia menyelenggarakan dua hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Jika Idul Fitri diselenggarakan pada tanggal 1 Syawal setelah bulan ramadhan berakhir, maka Idul Adha diselenggarakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada tahun 2023 ini, berdasarkan Keputusan Sidang Isbath KEMENAG RI menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada Selasa, 20 Juni 2023 sekaligus hari raya Idul Adha akan diselenggarakan pada tanggal 29 Juni 2023 nanti. 

Idul Adha berasal dari bahasa Arab, yakni Idul atau ied yang artinya kembali, sedangkan Ad-dha merupakan bentuk jamak dari ad-dhat yang artinya kurban. Secara keseluruhan, Idul Adha memiliki arti hewan sembelihan. Perayaan Idul Adha dari kaum muslim sendiri identik dengan menyembelih hewan kurban atau hewan ternak yang mereka miliki.

Sebelum melakukan penyembelihan hewan kurban, umat muslim biasanya melaksanakan salat sunah Idul Adha terlebih dahulu yang biasanya dilakukan di lapangan atau masjid di sekitar rumah mereka. Setelah melaksanakan salat dan pemotongan hewan kurban, biasanya panitia kurban akan membagi-bagikan daging kurban tersebut baik itu kepada orang berkurban, ataupun disedekahkan kepada orang-orang disekitarnya agar, setiap orang bisa mendapatkan bagian dari perayaan pemotongan hewan kurban ini. 

Sejarah Hari Raya Idul Adha

Dikutip dari Republika.co.id sejarah penyembelihan hewan kurban ini berawal ketika Nabi Ibrahim a.s mendapatkan ilham saat tidur bahwasanya beliau harus menyembelih Nabi Ismail a.s pada tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah). Menurut tafsir Ibnu Katsir, Nabi Ismail a.s adalah anak pertama dari Nabi Ibrahim setelah beliau sempat menunggu selama puluhan tahun. Sempat meragu, akhirnya Nabi Ibrahim a.s yakin bahwa ilham dalam mimpi tersebut adalah benar dari Allah S.W.T pada tanggal 9 Dzulhijjah dan menceritakan mimpinya kepada putranya tersebut.

Kisah mengenai mimpi Nabi Ibrahim a.s dan dialog beliau dengan putranya tersebut tercantum dalam surat As-shaffat ayat 102 yang berbunyi:

As-shaffat ayat 102

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Dengan persetujuan tersebut, maka tekad Nabi Ibrahim a.s telah bulat untuk mengorbankan putranya. Namun, atas kehendak Allah S.W.T, saat proses pengorbanan berlangsung, tubuh Nabi Ismail  a.s diselamatkan dan diganti dengan kambing gibas. Cerita mengenai penggantian ini tertuang dalam al quran surat as-shaffat ayat 104-107 yang berbunyi:

as-shaffat ayat 104-107

Artinya :

Lalu Kami panggil dia, "Wahai Ibrahim! (104) Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu." Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107).

Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s adalah nenek moyang bangsa Arab. Oleh sebab itu, tradisi penyembelihan hewan kurban ini dipraktikan turun menurun hingga pada zaman Nabi Muhammad S.A.W meskipun hanya sekadar fisiknya saja (tanpa hakikat Idul Adha itu sendiri). 

Ketika itu, masyarakat jahiliyyah akan menyembelih hewan kurban untuk berhala-berhala mereka, meletakkan daging hewan kurban disekitarnya dan memercikkan darah hasil penyembelihan ke berhala-berhala tersebut (NU Online). Hingga kemudian turunlah ayat al quran surat al-Hajj ayat 37 yang berbunyi:

surat al-Hajj ayat 37

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah sama sekali, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya atas kamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat ini kemudian didukung dengan beberapa hadits secara langsung mengindikasikan bahwa penerimaan Allah S.W.T atas hambanya didasarkan pada keikhlasan hamba tersebut dan bukan berdasarkan besar kecilnya fisik yang dikorbankan.

Makna Hari Raya Idul Adha Bagi Umat Islam

Ibadah kurban yang dilakukan umat Islam dengan penyembelihan hewan kurban dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Seperti halnya ibadah haji, kurban juga bersifat simbolik. Kurban bagi umat Islam merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan. Caranya dengan berbagi makanan berharga kepada mereka yang tidak mampu.

Kurban sendiri sebenarnya telah dilakukan sejak zaman pra Islam. Tepatnya ketika orang-orang Arab kafir dan Yahudi mengorbankan darah dengan harapan memperoleh kekayaan dan perlindungan Allah 'Azza Wa Jalla. Perayaan Idul Adha sejatinya bermakna sebagai refleksi diri untuk selalu taat kepada Allah SWT dan mengikuti perilaku yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Karena, pada saat itu, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail AS. 

Perintah itu merupakan perintah yang sangat berat untuk dijalankan bagi Nabi Ibrahim AS. Pasalnya, selama bertahun-tahun, Nabi Ibrahim AS belum memiliki keturunan dan setelah memiliki keturunan tersebut Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih satu-satunya anak kesayangannya pada saat itu. Berdasarkan kisah tersebut, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan kepada orang-orang terkait salah satu makna dari perayaan Hari Raya Idul Adha ini yang salah satunya adalah keikhlasan. Keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk selalu menerima semua takdir yang telah menjadi ketentuan dari Allah SWT merupakan sesuatu yang juga harus dilakukan oleh seluruh umat Islam. Selain Keikhlasan, makna lain dari perayaan Hari Raya Idul Adha ini di antaranya adalah :

1. Ketakwaan Seorang Hamba kepada Tuhannya

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai latar belakang perayaan Hari Raya Idul Adha merupakan gambaran bagaimana bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Sang Penciptanya. Kekuatan dari takwa sendiri tidak dibentuk secara mudah, melainkan terlebih dahulu melalui proses panjang bertahan dari godaan-godaan keburukan dan terus bertahan pada kebaikan yang merupakan bagian perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta'aala.

2. Semangat Berkorban
Makna lain dari perayaan Hari Raya Idul Adha adalah mengorbankan salah satu hal yang dianggap penting bagi diri, untuk kemudian menyadarinya bahwa semua hal di dunia ini hanyalah titipan semata dari Allah SWT. Salah satu bentuk pengorbanan dalam Hari Raya Idul Adha ini dilakukan dengan cara mengorbankan hewan ternak yang menjadi kesayangan kita, untuk kemudian dagingnya bisa dinikmati bersama dengan orang-orang lainnya.

3. Semangat Berbagi
Hari Raya Idul Adha juga mengajarkan seluruh umat Islam untuk berbagi lewat pendistribusian daging kurban yang dilakukan oleh para panitia Hari Raya Idul Adha. Kegiatan berbagi ini bisa meringankan beban dari orang-orang fakir yang kesulitan dalam mencari makan dalam kesehariannya.

4. Mempererat Silaturahmi
Tidak hanya soal berkorban dan berbagi, Hari Raya Idul Adha juga berkaitan dengan mempererat tali silaturahmi yang sebelumnya renggang dengan tetangga-tetangga sekitar.

Biasanya, orang-orang akan berkeliling untuk bersalam-salaman setelah salat Idul Adha dan juga berkumpul di lapangan untuk menyaksikan kegiatan pemotongan hewan kurban. Selain itu, mereka juga bekerja sama untuk mengurus pendistribusian daging kurban untuk didistribusikan kepada masyarakat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deretan Teknologi Yang Diramal Sakti Dan Tren Tahun 2023, Apa Saja?

  Tren teknologi terus berganti. Memasuki 2023, empat ahli berusaha memprediksi tren teknologi nantinya. Berikut teknologi yang akan jadi tren, dirangkum dari  CNN Internasional , Kamis (1/5/2023) : Artificial Intelligence Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari e-commerce hingga algoritma media sosial. Ledakan tren ini akan sampai ke gambar dan musik pada tahun 2023, ungkap co-founder dan CEO Addo, Ayesha Khanna. Menurutnya, AI tidak akan menggantikan manusia. "AI akan menjadi anggota tim baru untuk manusia dalam banyak pekerjaan, menyumbangkan ide dan konsep". Hal yang sama juga disebutkan oleh futuris dan penulis buku, Bernard Marr. "Fokus AI akan menjadi penambah pekerja, sebab tools baru tersedia untuk memungkinkan tenaga kerja untuk sepenuhnya memanfaatkan AI". Khanna juga menambahkan lebih banyak pekerjaan diperlukan memastikan co-pilot AI generatif. Misalnya Copilot GitHub, u...

Hak dan Keterwakilan Politik Perempuan dalam Arena Politik Indonesia

Fenomena tuntutan terhadap kesetaraan gender semakin menarik ketika dikaitkan dengan politik, karena dalam sejarah perpolitikan Indonesia berbagai dinamika soal gender dalam politik sudah menjadi rahasia publik bahwa perempuan selalu didominasi oleh laki-laki. Bahkan, pernah dalam satu masa tingkat keterwakilan perempuan sangat menurun di Indonesia, meskipun itu di masa-masa berikutnya mulai meningkat meski belum maksimal, akan tetapi setidaknya ada progres ke arah yang lebih untuk menunjukkan bahwa ada pergerakan dari kaum perempuan untuk meruntuhkan budaya patriarki yang sudah mengakar di negara Indonesia.  Hak Perempuan dalam Arena Politik   Representatif kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan di area publik adalah perdebatan dari masa ke masa yang belum ada titik temu mengenai hak perempuan dalam arena politik Indonesia. Hal ini terbaca dari perilaku perempuan yang tidak terlalu ambisius dalam hal berpolitik dengan partai politik yang tidak begitu amb...

EKSISTENSI SURAT KABAR MEDIA INDONESIA DI ERA DIGITAL

Jika dilihat dari kacamata Graham Murdock (1990), Media Group bisa disebut sebagai bisnis yang memiliki karakteristik communications conglomerate, yaitu sebuah konglomerasi bisnis yang berfokus pada industri yang bergerak dalam bidang media dan selanjutnya berekspansi vertikal maupun horizontal dalam bidang industri yang sama. Sementara, jika dilihat berdasarkan pandangan Richard Bounce (1976), Media Group masuk dalam kategori concentric conglomerates, yaitu suatu korporasi yang bisnis awalnya bergerak dalam industri media massa, kemudian melebarkan sayap ke industri media lain dengan tujuan utama penguatan bisnis industri media. Media Group Network merupakan ekosistem industri media yang terintegrasi dalam multiplatform dengan komitmen memberikan informasi, berita dan hiburan yang memiliki dampak dan pengaruh. Media Group memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perjalanan bangsa Indonesia melalui industri media yang terintegrasi dan multiplatform seperi surat kabar Medi...