Langsung ke konten utama

CUT NYAK DIEN : RATU PERANG ACEH DALAM MELAWAN PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA TAHUN 1878-1908

       


        Cut Nyak Dien merupakan keturunan Minangkabau. Kakek buyutnya bernama Makhdun Sati. Makhdun Sati adalah seorang pengembara yang ingin mencari kehidupan yang lebih baik dari tempat tinggalnya. Menurut (Retno, 2018: 14) Makhdun Sati beserta rombongannya merantau ke arah barat ujung Pulau Sumatera yang terdapat banyak kekayaan alam. Mereka berlabuh di bagian pantai barat Aceh yang dikenal dengan Meulaboh. Makhdun Sati melihat pasukan tentara Aceh sedang bertempur melawan Suku Mantir yang jumlahnya lebih banyak. Melihat hal itu Makhdun Sati beserta rombongannya membantu pasukan tentara Aceh melawan Suku Mantir dan berhasil mengalahkan Suku Mantir. Atas jasa bantuan dari Makhdun Sati pemimpin pasukan tentara Aceh memberikan Pasir Karam kepada Makhdun Sati beserta rombongannya sebagai tempat tinggal. Tempat itu dijadikan sebagai pengembangan lada dan membuat daerah itu semakin makmur. Kemudian mereka berpindah ke daerah Sungai Wolya yang memiliki kesuburan yang melimpah. 

        Sultan Aceh menyatakan bahwa daerah tersebut merupakan wilayah kekuasaan Sultan Aceh. semua orang wajib memberikan upeti kepada Sultan. Namun Makhdun Sati menolak untuk memberikan upeti dan mengirimkan besi-besi tua kepada Sultan Aceh. hal ini dianggap penghinaan kepada Sultan. Sultan Aceh memerintahkan Panglima kerajaan yaitu Penghulu Benareu untuk menyerang Makhdun Sati beserta rakyatnya. Makhdun Sati beserta rakyatnya telah siap untuk menghadapi pasukan Penghulu Benreu. Namun Makhdun Sati dan rakyatnya kalah dalam peperangan tersebut. 

            Makhdun Sati dibawah ke Istana Sultan dan diberikan hukuman. Makhdun Sati diberi minuman berupa lelehan besi tua, namun Makhdun Sati tak kunjung meninggal. Akhirnya Sultan mengampuni Makhdun Sati dan memberikan kedudukan sebagai Kepala Pengawal untuk menjaga Taman Penghibur Sultan dan mendapatkan daerah wilayah VI Mukim. Kemudian atas jasanya menolong Sultan Alaiddin Muhammad Syah Makhdun Sati diberi gelar dengan nama Nanta Seutia Raja yang diberikan Secara turun temurun kepada anak cucunya. Kakek buyutnya Makhdun Sati memiliki seorang anak yang diberi nama Teuku Chik Seutia Raja dan menikah dengan seorang anak bangsawan Teuku Nek Meuraksa. Pernikahan ini dikaruniai dua orang anak laki-laki yaitu Teuku Nanta Seutia dan Teuku Ahmad Mahmud. Teuku Nanta Seutia menikah dengan Cut Nyak seorang anak bangsawan dari Lampagar dan memiliki dua orang anak yaitu Teuku Rayut dan Cut Nyak Dien. Sementara Teuku Ahmad Mahmud menikah dengan adik Uleebalang dari Meulaboh yaitu Cut Mahani dan memiliki enam orang anak yaitu dua perempuan dan empat laki-laki.

            Cut Nyak Dien lahir di wilayah VI Mukim tempat ayahnya berkuasa. Kelahiran Cut Nyak Dien berada disituasi yang sangat memprihatinkan dimana pada saat itu terjadi pembangunan di wilayah VI Mukim dibawah pemerintahan Uleebalang Nanta dan juga terjadi perang saudara (Lulofs, 2017: 25). Cut Nyak Dien sejak kecil mendapat pendidikan agama dari kedua orangtuanya, ia memahami agama Islam dan fasih berbahasa Arab. Cut Nyak Dien tumbuh menjadi gadis remaja yang rupawan, elok perangainya dan baik tutur bahasanya.

          Cut Nyak Dien adalah perempuan yang keras hatinya, tidak menunjukan sikap merendah terhadap laki-laki. Nanta menginginkan seorang panglima gagah perkasa yang layak menjadi pendamping Cut Nyak Dien. Calon suami Cut Nyak Dien haruslah berasal dari keluarga yang setara kedudukannya dengan Nanta, seorang bangsawan yang sama-sama memiliki posisi yang kuat untuk bisa saling melindungi. Sudah banyak lelaki dari golongan bangsawan yang datang meminangnya namun tidak satupun yang diterima oleh Nanta maupun Cut Nyak Dien.

        Kemudian datanglah seorang tamu dari Lamnga beserta istri dan para pengiringnya ke Lampadang. Maksud kedatangannya adalah melamar Cut Nyak Dien untuk putra sulungnya Ibrahim Lamnga yang sebentar lagi akan menggantikan ayahnya dalam hal kekuasaan. Nanta pun menerima lamaran tersebut, karena telah menemukan sosok lelaki yang cocok untuk putrinya Cut Nyak Dien . Begitupun Imam Lamnga yang bahagia mendengar lamarannya diterima. Setelah Cut Nyak Dien berumur 14 tahun, tibalah saat peresmian. Cut Nyak Dien menikah dengan Ibrahim Lamnga pada tahun 1862. Pernikahannya sederhana namun sangat khidmat. Nanta mengundang seorang penyair. Abdul Karim atau Dokarim dari Lamtengah yang masyhur namanya di Aceh.

                Dokarim membawakan syair-syair yang bernapaskan agama dan mengagungkan perbuatan-perbuatan heroik untuk memeriahkan pernikahan antara Cut Nyak Dien dan Ibrahim Lamnga. Belanda kembali menghancurkan Aceh sehingga Ibrahim Lamnga harus berpisah dari Cut Nyak Dien selama 2,5 tahun. Pada tahun 1878, Cut Nyak Dien harus berpisah dengan suaminya tercinta Ibrahim Lamnga karena gugur di medan perang melawan kolonial Belanda. Setelah kepergian suaminya Ibrahim Lamnga, datanglah Teuku Umar ke Mon Tassik untuk menemui pamannya Nanta Seutia. Teuku Umar membawa pasukannya yang gagah berani dan pantang menyerah. 

                Pada sampai tahun 1971 Aceh masih menjadi daerah yang merdeka tanpa campur tangan pihak penjajah seperti Belanda. Namun, keadaan berubah setelah ditandatangani Traktak Sumatera (yang ditandatangani Inggris dengan Belanda pada tanggal 2 November 1971) (Marwati, 1992: 242). Isi dari Traktak Sumatera itu adalah memberikan kebebasan kepada Belanda untuk menanamkan pengaruhnya di Pulau Sumatera termasuk Aceh. Perjanjian tersebut hanya bersifat politik saja sebab daerah Sibolga dan pedalaman Tapanuli dan Tanah Batak pada tahun 1830 telah dikuasai oleh Belanda. 

            Hal ini menjadi ancaman bagi Aceh sebab musuh telah berada di depan mata. Banyak daerah-daerah yang sudah dikuasai Belanda, namun Inggris tidak memberikan reaksi apapun yang membuat Belanda semakin merajalela menguasai daerah tersebut. Hingga pada tanggal 1 Februari 1858 Sultan Siak diikat dengan sebuah perjanjian oleh Belanda atau Siak Tractaat yang perjanjian ini berisi bahwa Sultan Siak mengakui kedaulatan Belanda di Sumatera Timur dan meletakkan kerajaannya dibawah kekuasaan Belanda.

            Dipihak Belanda, mereka menganggap bahwa Aceh merupakan lawan yang bisa dikalahkan. Pada tanggal 5 April 1873 (Marwati, 1992:245)Belanda menyerbu Aceh dengan perlengkapan yang cukup kuat. Pasukan dengan 3000 orang didaratkan dari kapal perangnya. Pasukan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Kohler seorang panglima perang yang sangat tangguh di daerah Pantai Ceureumen. Kemudian pasukan Aceh memperkuat Masjid Raya Baiturrahman karena sasaran Belanda akan mengarah ke Masjid Raya. Masjid berhasil dikuasai oleh Belanda pada 14 April 1873. Setelah Masjid jatuh ke tangan Belanda, tempat selanjutnya yang harus dilindungi adalah istana Sultan Mahmud Syah. Pasukan Belanda menyerang istana Sultan dan membuat pasukan Aceh terdesak dan Sultan Mahmud Syah meninggalkan Istana dan pindah ke daerah Lueng Bata. Sultan mendirikan pertahanan baru, hal ini dilakukan Sultan untuk mengusir Belanda dari tanah Aceh.

            Setelah suaminya Ibrahim Lamnga gugur di medan pertempuran. Cut Nyak Dien kemudian menikah lagi dengan Teuku Umar. Teuku Umar dan Cut Nyak Dien menikah pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menerima pinangan Teuku Umar karena Teuku Umar mengizinkan Cut Nyak Dien untuk ikut berperang melawan kolonial Belanda untuk membalas kematian suaminya Teuku Ibrahim Lamnga. Cut Nyak Dien terus memberikan semangat kepada Teuku Umar agar bisa merebut kembali wilayah VI Mukim dan mengusir Belanda dari bumi Aceh. Berikut gambar Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Hadirnya kedua ksatria ini sangat dinantikan oleh rakyat Aceh, karena mereka merupakan kesatria yang siap berperang di medan perang. Pernikahan Cut Nyak Dien dan Teuku Umar membuat Belanda semakin marah sebab hadirnya mereka membuat semangat rakyat Aceh kembali berkobar. 

            Pada akhir Desember 1878 Jenderal Van der Heyden terus melakukan aksi pembersihan terhadap perlawanan rakyat Aceh Pada akhir Desember 1878 Jenderal Van der Heyden terus melakukan aksi pembersihan terhadap perlawanan rakyat Aceh (Lulofs, 2017:165). Semua benteng Aceh dihancurkan, masjid-masjid juga dihancurkan, Belanda juga merebut daerah Sagi XVI dan setelah semua daerah itu dikuasai maka Belanda, maka Perang Aceh dianggap telah selesai dan selanjutnya adalah melakukan pembangunan pemerintah. Para pejuang Aceh yang masih setia dengan Sultan terus melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda. Setelah Indrapura dikuasai Belanda, maka Sultan memindahkan ibukota kekuasaan ke Pidie namun karena terus terjadi desakan maka dipindahkan ke Keumala. 

            Atas dorongan Cut Nyak Dien, Teuku Umar kembali menyusun kekuatan untuk merebut kembali wilayah VI Mukim karena Cut Nyak Dien sangat merindukan kampung halamannya selama 7 tahun ia ditinggalkan (Lulofs, 2017:165). Dalam perang Aceh ini Teuku Umar tidek sependapat dengan Cut Nyak Dien. Karena Cut Nyak Dien menggunakan siasat berperang dan terus menggempur lawan-lawannya dengan kekuatan yang dimiliki hal ini sama persis dengan pandangan para ulama yang terus mengobarkan semangat fii sabilillah dengan kekuatan yang ada (Anita, 2018:84).

                Teuku Umar dan pasukannya memiliki rencana untuk menghancurkan Belanda dengan taktik yang berbeda, yaitu menghancurkan Belanda dari “dalam”. Taktik Teuku Umar ini dikenal dengan taktik “menyerah diri” kepada pihak Belanda. Pada tahun 1875, Teuku Umar membuat siasat untuk mengelabui Belanda untuk bisa mendapatkan persenjataan dari Belanda. Teuku Umar memiliki siasat yang cukup bagus untuk hal itu yaitu dengan cara mendekati Belanda dan membuat hubungan diantara keduanya. Teuku Umar menjalankan misi palsunya dengan menyerang basis Aceh. pada tanggal 30 Maret 1896 Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Teuku Umar menyatukan semua pejuag Aceh dan melakukan penyerangan kepada Belanda. Mendengar kabar itu akhirnya Cut Nyak Dien mengerti maksud dan tujuan dari Teuku Umar. Malam menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar beserta pasukannya tiba di pinggiran Kota Meulaboh (Anita, 2018:84). 

        Pasukan Aceh terkejut karena terkepung oleh pasukan Belanda, posisi Teuku Umar beserta pasukannya sangat tidak menguntungkan karena hal itu salah satu yang dilakukan hanyalah bertempur sampai titik darah penghabisan. Teuku Umar akhirnya gugur tertembak peluru yang menembus dadanya oleh pihak Belanda Cut Nyak Dien membulatkan tekad untuk maju ke garis terdepan , mengambil alih komando perjuangan. Cut Nyak Dien memerintahkan pengawal setianya, Pang Laot agar merahasiakan makam Teuku Umar dari intaian Belanda (Lulofs, 2017:165). 

              Cut Nyak Dien kemudian mengucap janji, bahwa ia akan terus berjuang sampai nyawa terlepas dari badannya. Janji ini pernah diucapkan oleh Ibrahim Lamnga yang gugur sebagai Syuhada dalam pertempuran melawan Belanda di Ngarai Beradin. Pada tahun 1901 Cut Nyak Dien beserta pengawal setianya bergerak melalui daerah Beutung menuju daerah Gayo (Aceh Tengah) dan menetap di Kampung Celala. Namun pada tahun 1902 Cut Nyak Dien beserta pasukannya kembali ke Aceh Barat dan menetap di Beutung Atas yang terletak diantara perbatasan Aceh Barat dan Aceh Tengah. Keadaan Cut Nyak Dien beserta Pasukannya semakin menghawatirkan, mereka kekurangan bahan makanan karena Belanda selalu mengawasi peredaran kebutuhan pokok di masyarakat.

            Cut Nyak Dien berusaha untuk mempertahankan diri. Ia selalu berpindahpindah tempat bersama pasukannya. Tempat ini sangat rahasia dan tidak diketahui oleh musuh, di tenpat ini dibuat gubuk untuk beristirahat dan berunding. Jalan yang dilalui dibuat jejak yang menyesatkan agar pihak musuh kebingungan dan gagal menemukan Cut Nyak Dien. Pada siang hari Cut Nyak Dien menghindari pemakaian api. Cut Nyak Dien sudah semakin tua, penyakit encoknya mulai melemahkan tubuhnya, serta penyakit rabun dan sulitnya memperoleh bahan makanan membuat iba semua pasukan Cut Nyak Dien. Pengawal setianya Pang Laot merasa iba dengan Cut Nyak Dien, akhirnya dia meminta Cut Nyak Dien menyerah saja karena tidak mungkin melakukan perjuangan disaat usia yag sudah renta. 

        Dengan amarah yang luar biasa Cut Nyak Dien mengeluarka rencongnya dan tidak akan menyerah kepada Belanda yang kafir itu sampai titik darah penghabisan. Kemudian Pang Laot akhirnya meninggalkan Cut Nyak Dien dan menyerahkan diri kepada Belanda dan memberitahu keberadaan Cut Nyak Dien tetapi dengan syarat agar Belanda memperlakukannya dengan baik. Syarat yang diberikan oleh Pang Laot disetujui oleh Letnan Van Vuuren. Pada tanggal 7 November 1905 akhirnya Belanda mengepung tempat persembunyian Cut Nyak Dien. 

         Cut Nyak Dien akhirnya dibawa ke Banda Aceh untuk dirawat dan penyakit encoknya berangsur-angsur sembuh. Kembalinya Cut Nyak Dien mendapat perhatian dari rakyat Aceh sehingga mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi Cut Nyak Dien, hal ini menjadi perdebatan antara Van Daalen dan Van Vuuren sebagai bawahan. Hal ini ditakutkan oleh Van Daalen, jika rakyat Aceh sering mengunjungi Cut Nyak Dien maka Cut Nyak Dien akan kembali menyalakan api pertempuran dan hal ini bisa membuat rakyat kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Akhirnya dari Meulaboh Cut Nyak Dien diberangkatkan dengan kapal Belanda ke Kutaraja awal tahun 1907 dan diasingkan oleh Van Daalen ke Pulau Jawa di daerah Sumedang tanggal 23 Januari 1907 (Anita, 2018120-127). 

     Perang Aceh yang terjadi pada tahun 1873 merupakan perang terlama dalam sejarah bangsa Indonesia. Masyarakat Aceh yang mayoritas beragama Islam menganggap bahwa perang ini adalah perang dijalan Allah untuk melawan kolonial Belanda yang dianggap kafir. Panggilan jihad dalam Perang Aceh lebih dikenal dengan Perang Sabil, perang dijalan Allah. Perjuangan rakyat Aceh juga didorong oleh semangat ideologi dan sakralisasi perang yang didasarkan atas keyakinan agama yang direproduksi oleh para ulama dalam hikayat perang sabil. 

           Menurut (Ibrahim, 1987:10) melalui perang sabil, ulama meningkatkan semangat rakyat untuk memperjuangkan dan terus meningkatkan kemampuan berperang Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional yang memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap kehidupan masyarakat Aceh. mengobarkan semangat rakyat untuk pantang menyerah dalam menghadapi kaphe Belanda. Perempuan yang pantang tunduk terhadap Belanda ini sangat disegani oleh rakyatnya. 

         Namun, kecintaan terhadap pahlawan nasional seperti Cut Nyak Dien masih bisa dirasakan dengan adanya peninggalan-peninggalan berbentuk fisik untuk mengenang Cut Nyak Dien. Untuk itu untuk mengenang perjuangan Cut Nyak Dien pemerintah menjadikan rumahnya sebagai museum. Selain rumah yang dijadikan sebagai museum, pada 13 April 2014, sebuah karya seni yang indah untuk mengenang semangat perjuangan Cut Nyak Dien dan perjalanan hidupnya dalam bentuk teater monolog. Kehadian perempuan dalam ranah politik dapat menyetarakan persmaan gender antara laki-laki dengan perempuan. 

        Salah satu pasrtisipasi perempuan dalam bidang politik adalah sejarah kaum perempuan yang terlibat dalam perjuangan bangsa Indonesia yang ikut andil dalam perjuangan fisik melawan penjajah seperti Cut Nyak Dien (Sarifah (jurnal AnNisa), 2018:336). Pada dasarnya perempuan tidak diwajibkan untuk mengangkat senjata dan berperang tetapi perempuan bisa berpartisipasi dalam mengobati orang-orang yang terluka dalam perang. Perempuan memiliki multiperan dalam dirinya. Keadaan Nusantara yang sangat krisis menyebabkan lahirnya gerakan perlawanan untuk mengusir kolonialisme. 

            Sehingga perempuan diberi kebebasan untuk membangkitkan dirinya dalam ketahahan fisik dan ikut bergerak mengangkat senjata dalam rangka mempertahankan diri, keluarga, agama, dan juga negaranya (Aah Syafaah (Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam), 2017:113). Pengaruh yang ditonjolkan oleh Cut nyak Dien dalam Perang Aceh memang berbeda dengan tokoh pejuang lainnya dimana Cut Nyak Dien mampu menanamkan pengaruh ke sekumpulan orang berbekal pemahaman taktik maupun strategi perang yang baik. Beliau mampu memimpin perang setelah suaminya Teuku Umar gugur tertembak peluru pasukan Belanda. Selain itu pada saat diasingkan identitas dari Cut Nyak Sendiri disembunyikan oleh Belanda. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pergolakan yang dilakukan rakyat Sumedang.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deretan Teknologi Yang Diramal Sakti Dan Tren Tahun 2023, Apa Saja?

  Tren teknologi terus berganti. Memasuki 2023, empat ahli berusaha memprediksi tren teknologi nantinya. Berikut teknologi yang akan jadi tren, dirangkum dari  CNN Internasional , Kamis (1/5/2023) : Artificial Intelligence Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari e-commerce hingga algoritma media sosial. Ledakan tren ini akan sampai ke gambar dan musik pada tahun 2023, ungkap co-founder dan CEO Addo, Ayesha Khanna. Menurutnya, AI tidak akan menggantikan manusia. "AI akan menjadi anggota tim baru untuk manusia dalam banyak pekerjaan, menyumbangkan ide dan konsep". Hal yang sama juga disebutkan oleh futuris dan penulis buku, Bernard Marr. "Fokus AI akan menjadi penambah pekerja, sebab tools baru tersedia untuk memungkinkan tenaga kerja untuk sepenuhnya memanfaatkan AI". Khanna juga menambahkan lebih banyak pekerjaan diperlukan memastikan co-pilot AI generatif. Misalnya Copilot GitHub, u...

Hak dan Keterwakilan Politik Perempuan dalam Arena Politik Indonesia

Fenomena tuntutan terhadap kesetaraan gender semakin menarik ketika dikaitkan dengan politik, karena dalam sejarah perpolitikan Indonesia berbagai dinamika soal gender dalam politik sudah menjadi rahasia publik bahwa perempuan selalu didominasi oleh laki-laki. Bahkan, pernah dalam satu masa tingkat keterwakilan perempuan sangat menurun di Indonesia, meskipun itu di masa-masa berikutnya mulai meningkat meski belum maksimal, akan tetapi setidaknya ada progres ke arah yang lebih untuk menunjukkan bahwa ada pergerakan dari kaum perempuan untuk meruntuhkan budaya patriarki yang sudah mengakar di negara Indonesia.  Hak Perempuan dalam Arena Politik   Representatif kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan di area publik adalah perdebatan dari masa ke masa yang belum ada titik temu mengenai hak perempuan dalam arena politik Indonesia. Hal ini terbaca dari perilaku perempuan yang tidak terlalu ambisius dalam hal berpolitik dengan partai politik yang tidak begitu amb...

EKSISTENSI SURAT KABAR MEDIA INDONESIA DI ERA DIGITAL

Jika dilihat dari kacamata Graham Murdock (1990), Media Group bisa disebut sebagai bisnis yang memiliki karakteristik communications conglomerate, yaitu sebuah konglomerasi bisnis yang berfokus pada industri yang bergerak dalam bidang media dan selanjutnya berekspansi vertikal maupun horizontal dalam bidang industri yang sama. Sementara, jika dilihat berdasarkan pandangan Richard Bounce (1976), Media Group masuk dalam kategori concentric conglomerates, yaitu suatu korporasi yang bisnis awalnya bergerak dalam industri media massa, kemudian melebarkan sayap ke industri media lain dengan tujuan utama penguatan bisnis industri media. Media Group Network merupakan ekosistem industri media yang terintegrasi dalam multiplatform dengan komitmen memberikan informasi, berita dan hiburan yang memiliki dampak dan pengaruh. Media Group memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perjalanan bangsa Indonesia melalui industri media yang terintegrasi dan multiplatform seperi surat kabar Medi...